tidak ada yang bisa memungkiri dan menahan pesatnya perkembangan teknologi selama 10 tahun terakhir ini. kemunculan gadget-gadget mutakhir yang mengatasnamakan kemajuan dan berharap dapat mempermudah kehidupan manusia.

gue berfikir, itu tidak sepenuhnya benar.
seseorang pernah berkata :

agama tanpa ilmu itu kebodohan.
ilmu tanpa agama itu sombong.

tidak ada maksud tertentu, hanya sekedar mengungkapkan opini.
ya. opini antara harapan dan realitas yang terjadi.

banyak fitur-fitur yang (diharapkan) dapat mempermudah komunikasi kita terhadap sesama, lintas provinsi, pulau, bahkan benua.
seperti sms, telepon, chatting bahkan video call.
adakah seseorang disini yang mulai merasakan itu semua adalah silaturahmi semu?

boleh lah berpikir,
"sodara gue kan beda pulau gir, sah lah kalo gue ngucapin idul fitri via sms?"

oke, itu sah.
permasalahannya,
kenapa lo lakuin hal yang sama dengan tetangga lu?
bukankah tetangga adalah saudara yang paling dekat?
berapa orang yang mengirimkan ribuan kata mutiara untuk meminta maaf, tapi bahkan ga membaca dengan baik apa yang diketik?
berapa orang yang menerima ribuan kata mutiara dari seseorang, tapi hanya dilihat sekilas dan forward ke teman lainnya?

paradox


kemarin, gue ngajak temen-temen SMA gue untuk ngumpul.
for what? just seeing each other.
smile together, sharing 'bout everything.

kita duduk santai dengan hangatnya kopi, di LAWSON.
tempat yang cukup nyaman, 11-12 lah dengan sevel.

bedanya, sevel itu dari amerika. lawson dari jepang.
"banyak yang bisa ditemui disini, makanan-makanan jepang yang selama ini mungkin hanya kita bisa temui di dalam komik atau film-film jepang. hanya saja, tidak begitu banyak option yang dapat dipilih seperti LAWSON yang ada di jepang." kata dani.

beda dengan nongkrong.
gue lebih menganggap ini silaturahmi.

banyak yang dapat kita share, dani bercerita pengalaman dia menjadi atlit, bagaimana kehidupan di jepang, majunya negara brunei dan "same same different"-nya thailand. tidak begitu berbeda dengan Reka yang bercerita tentang suka dukanya menjadi desainer, atau cerita tentang fauzan yang baru saja kena batu ginjal.

kita mendapat banyak masukan satu sama lain, saling berbicara panjang walau latar belakang sangat berbeda. olahraga, desain, perbankan dan guru. bahkan gue ga dapat menjamin jika gue dapat ini semua dalam multiperson chat, or something else. passionnya ga dapet.


Dani dan Fauzan saling share solusi batu ginjal 




cuma bisa foto, ga ada duit #LOL


 orang waras, pake jas hujan padahal ga ujan


everybody loves to share.
gue tidak mengutuk teknologi, gue bahkan bersyukur. dengan teknologi gue dapat bertemu kembali dengan teman-teman yang tadinya gue berfikir tidak akan ketemu lagi.
gue ketemu dengan first love gue di facebook.
gue dapat meminta maaf dengan orang yang gue sakitin semasa SMP.
gue dapat info reunian dari sms
to much to tell.

tidak ada salah dengan kehadiran teknologi.
tidak ada salahnya keluar rumah untuk menyapa sekitar.
karena sampai kapanpun
tidak ada yang dapat menggantikan sebuah 'pertemuan'
silaturahmi yang hakiki



Comments (2)

On 18 Februari 2012 pukul 07.53 , didik mengatakan...

Nice post bro!
memang kehadiran teknologi itu seperti pedang bermata dua, kalo digunakan secara baik hasilnya ya baik. Kalo jelek ya jelek jadi semua tergantung pemakainya :D

Setuju, bagaimanapun juga silaturahim hakiki memang lebih baik

 
On 18 Februari 2012 pukul 08.41 , GiriMaulana mengatakan...

terimakasih mas didik :) jangan lupa bersilaturahim hehe